Rabu, 06 Februari 2013

Anekdot, Seorang Filsuf.


Seorang filsuf menaiki sebuah kapal. Ia hendak berlayar.  Sesekali ia mondar mandir dalam kapal beserta bukunya sambil menyapa para pelayan kapal. Kemudian kembali lagi masuk dalam bilik kamar.
Suatu waktu dia memanggil pelayan. Dan pelayan kapalpun datang.

“ Ada yang bisa saya bantu tuan?”, tanya pelayan dengan sopan.
“O, tidak! Saya cuma mau bertanya. Apakah kamu pernah belajar tentang psykologi?”
Sang pelayan menjawab campur bingung.

 “Tak pernah pak!”.

Wah.. sayang sekali anda menghabiskan waktu anda, dan tak meluangkan waktu tuk mempelajari ilmu tersebut. Padahal dengan ilmu psykologi, kamu bisa mengetahui banyak hal termasuk bagaimana caranya kamu bisa mengetahui keinginan semua penumpang yang ada di kapal ini.

“Cobalah belajar”, ajar filsuf.

Dan pelayan jadi bingung, lalu pergi.

Filsuf kemudian naik diatas gladak kapal, dan ia melihat dari jauh seorang tukang sapu kapal sibuk dengan pekerjaanya.

Sang Filsuf bertanya lagi kepada tukang sapu dengan berteriak.
Hei, apakah kamu pernah belajar Antropologi?.
Tukang sapu diam dan balik menjawab,

“Hoho, tidak pernah tuan, saya hanya tukan sapu kapal ini”.

Oh, kalau begitu sayang sekali.  Dan kamu menghabiskan waktumu hanya dengan menyapu dalam kapal. Padahal dengan mempelajari antropolgi kamu bisa banyak tahu dan bisa mengetahui semua bangsa-bangsa yang ada didunia ini. Artinya dimana saja kapal ini singgah, kamu bisa bergaul dengan penduduknya dengan mudah.

Tukang sapu kapal hanya menggaruk kepalanya.
Berikutnya sang filsuf bertemu lagi salah satu anak buah kapal lagi dan iapun bertanya.

“ Apakah anda pernah mendalami matematika dan astronomi?”
Sang anak buah kapal hanya menggeleng.
“Seharusnya kau pelajari itu, biar kamu tak tersesat. Dan dengan ilmu itu apa yang kamu lakukan dalam dunia ini selalu tepat dan akurat,” kata sang Filsuf.

Sang filsuf pun kembali kekamarnya. Ia kemudian kembali menikmati bacaanya.
Namun tiba-tiba dari luar kamar penumpang terdengar sirene kapal berbunyi dan kapal tiba-tiba bergetar. Dan ternyata kapal mengalami masalah, dan menabrak karang. Semua penumpang jadi panik. Dan terdengar suara peringatan agar masing-masing penumpang memasang pelampung mereka  tuk selamatkan diri.
Tak terkecuali sang filsuf juga dengan sigap memasang pelampung mereka, dan bergegas menuju tepi kapal dan menunggu perahu darurat diturunkan satu persatu. Sang filsuf menunggu giliran.

Tiba-tiba dari jauh, seorang anak buah kapal berteriak kepala filsuf .

“Tuan..., apakah tuan tahu berenang?”
Dan tiba-tiba sang filsuf menjawab dengan cepat.
“ Saya tidak tahu berenang” jelas filsuf.

Sang anak buah kapal menjawab.

“ wah. Sayang sekali tuan tak pernah meluangkan waktu untuk belajar berenang”.
Kami harus menolong satu persatu penumpang tuan. 

Berebut “kursi kosong”


(Saya juga telah membaca salah satu ulasan lain dalam media cetak TEMPO Makassar.)

"Kebetulan isu ini masih tepat dan hangat. Pesta demokrasi di Sulawesi Selatan akhir-akhir ini kini usai, yakni memilih  calon gubernur (Pilgub) untuk periode 2013-2018.  Riuh tawa dan canda juga tangis, kemudian menyusul merasa panik dan menegangkan."

(dok. Kumpulan Foto Pertunjukan Festa Halalaman Rumah)



Dan begitu pentingnya pilihan-pilihan yang tepat. Walau kita belum tahu pasti berapa jumlah orang tak terlibat dalam memlih, kecuali sekedar senang membicarakanya gara-gara media massa selalu mengolahnya.
Harapan terbesar pesta demokrasi kali ini adalah benar-benar bersih, seperti harapan ke ‘ Indonesiaan’  kita. Juga harapan besar proses demokratisasi berjalan apa adanya dan para kandidat kandidat menjaga martabat  dan menjaga kepercayaan pemilihnya. Bukan pemanfaatan suara-suara rakyat yang akan memilihnya jauh dari kesan setengah hati.

Gambaran pertunjukan UKM seni UMI kali ini masih tergolong jenis pertunjukan tema tumbuh semangat pesimis, juga semangat oportunis tanda kutip masih  setengah hati untuk mempercayai perilaku politisi dan birokrat pemimpin negri ini. Misalnya saja judul teater “berebut kursi kosong”.  Pertunjukan rangkaian kalimat-kalimat “ interupsi” dan sikap drama oportunis. Dan ada juga beberapa karya lagu berdendang miris, seperti impian koruptor.  




Beberapa orang pemain berlarian kesana kemari. Sebuah pesta demokrasi bisa saja meraih simpatik, namun bisa juga meraih kemalasan tuk melibatkan diri pada rana demokrasi yang konvensional. Kecuali rana aksi lain, seperti salah satunya pertunjukan teater. Hal inilah dilakonkan oleh UKM seni UMI Berebut Bangku Kosong. Gedung Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia Makassar. Tema kegiatan Pesta Halaman rumah.


Beberapa orang menertawakan beberapa susun kursi menjulang keatas. Setelah itu ia kemudian menangis, lalu mereka kembali tertawa terpingkal-pingkal, dan tiba-tiba ia merasa ketakutan melihat susunan kursi itu dan berlarian panik keluar.

Para pemain berkostum rapi lengkap dengan dasi dan sepatu kemudian meloncati kursi satu persatu. Adegan per-adegan tak menggunakan dialog bukan seperti bahasa percakapan sehari-hari antara aktor yang satu dengan lainnya.  Kecuali ungkapan penggalan-penggalan narasi yang agresif.
Kursi  atau bangku adalah simbol lazim selalu rebutan, dan sangat sulit untuk dilepas begitu saja yang sudah menguasainya. Namun juga simbol ketegangan ketika harus diperebutkan, juga symbol malapetaka jika diperolehnya karena mesti selalu kita berusaha untuk mengamankan diri. Aktor kemudian bercerita dengan bahasa non verbal hubungan kursi dengan kekuasaan lalu ia mencengkram kursi dengan erat-erat dan dia memasang dikepalanya seperti topeng.

Adegan lain berikutnya buah ilustrasi kursi sebagai jembatan penyeberangan, sementara diatasnya seseorang menyeberang dengan langkah pelan, menunggu posisi kursi urutan berikutnya. Pembawa kursi empat orang dengan kostum masyarakat biasa berjalan sambil  jongkok dan sembunyi dibelakang kursi, sepertinya ia menggambarkan masyarakat pengusung deretan-deretan penyusun kursi dilalui pejabat teras. Termasuk salah satunya ada yang berkain sorban, seperti layaknya seorang agamawan, ada juga berbaju almamater seperti mahasiswa, ada juga berpakaian biasa saja warga awam.

Terakhir ia menaruh kursi diatas pundaknya lalu berjalan membungkuk seperti binatang onta berpunuk. Bahkan mengikat kursi dilehernya. Ending adegan penutup, lampu menyorot pada bingkai dan terlihat bingkai menggambarkan pesan pertanyaan.
Pertunjukan ini hanya bisa dipertajam dengan medium artistik. Meski  simbol-simbol minim penguat adegan. Cukuplah adegan itu bisa dicerna dengan kepala pusing-pusing bagi penonton pemula. Akan tetapi, terdengar penonton baru bisa mengerti jika ia tepuk tangan melihat aktor beraksi sambil membawa pesan tertentu.

Seperti empat bingkai bergambar tanda tanya kiri dan kanan. Sementara pada bingkai tepat ditengah panggung, dibiarkan kosong sama sekali. Mereka lalu mempertanyakan  dalam dialog “saya harus memilih apa” penontonpun tepuk tangan, ketika lampu menyorot tepat hanya salah satu bingkai sebelah kiri berisi tanda tanya.

Penulis : Subhan Makkuaseng, Makassar, 29 Januari 2013.

( Ulasan lain kabar peristiwa ini juga anda bisa lihat di Koran Tempo Makassar hal-)


Rupa-rupanya Rupa- UKM seni UMI


Rupa-rupanya Rupa- UKM seni UMI

"Mereka adalah sekumpulan anak muda belia mencoba menggaris lekak lekuk kehidupan. Juga mengiris bagian-bagian yang tercerai berai dari bagian-bagian potensi dasar bagi sekian banyak orang. Ia ingin menyebut dirinya seni rupa juga menyebut kelompoknya Galaksi Rupa. Adalah seni berkarya dengan gaya visual." 


(dok. Foto dari kumpulan foto pertunjukan HalamanRumah UPKSBS-UMI)

Tak ada perbincangan cukup lama. Baik apakah ia punya konsep yang baku sebelum ditampilkan. Akan tetapi jelasnya dari, A-Z adalah proses seperti sejalan dengan waktu ia  bergerak sebulan lamanya ia berproses mulai akhir Desember 2012 hingga Januari hingga 28 2013, kata Farid pasilitator mereka. Akhirnya berujung pada malam itu juga pameran karya di Gedung Al-Jibra UMI. Pameran berbentuk kerapian orang dan ketegangan sedang antrian untuk di tonton puluhan orang.   

Hidup dengan cara otodidak, bukan dengan jenjang semester persemester pada sebuah perkuliahan visual. Lalu saya bilang susun saja dengan rapi dengan bahasa saya sendiri selaku penulis. Sebab materialnya memang sudah sudah ada. Sisa disahkan,  yang lainya ikut membantu, serta dikawal oleh pasilitator lainya seperti  Riko juga salah satu anggota UKM Seni UMI juga.

Seandainya ia ibarat sebuah pameran produk industri, bisa jadi itu laku. Namun bisa pula produk itu gagal dan masuk kedalam tong sampah.  Dan kemudian pimpinan perusahaan mereka datang mencak-mencak karena  mengalami kerugian besar. Namun untungya ini hanyalah kreasi bagi kalangan anak-anak  muda yang merdeka. Bukan tumbuh dari mesin yang mengharuskan harus begitu dan begini oleh pihak perusahaan yang memesannya.


Saat ini bagi saya kebebasan beride adalah yang utama bagi mereka. Ia akan bertindak  selalu manajer dalam kelompoknya sendiri, sekaligus iapula menjadi kreatornya sendiri. Mengolah isu sentral juga menarik, karena ia terkait dengan wacana kepedulian. Namun  besar bagi saya yang pernah menjajal tempat itu berharap tak mengulangi pengalaman yang sama dietengah kecanggihan ilmu pengetahuan saat ini. Sisa menarik atau merangkum gagasan-gagasan yang ada diluar diri mereka.



Mereka keroyok proses pengerjaan tersebut, yang lain juga masih sempat tampil dalam aksi Happening Art. Banyak penonton menikmatinya. Sebab pameran ini juga menjadi pintu utama kemasan Pertunjukan Festa Halaman Rumah oleh UKM seni UMI dalam gedung in door Al-Jibra.

Saya teringat  Firman Djamil pernah berkata painting of  finish. Kecanggihan teknologi sudah merenggut semua. Dan mengemasnya lebih dari apa yang kita pikirkan sebelumnya sangat sulit. Tersisa bahwa apakah kita menjadi bagian daripada terknologi itu. Atau teknolgi adalah sarana buat manusia untuk mengolah gagasan-gagasanya. Tersisa adalah meta gagasan, menurut tafsiran saya tentang soal ini.

Sekedar wacana bahwa dunia cat men cat hanyalah rangkaian sejarah teknis, namun paling penting adalah bagaimana mengasah kemampuan meta teknis kita.

Kini saya melihat deretan coretan-coretan sketsa gambar dan seperti poster. Barangkali diangap remeh temeh bagi kalangan profesional. Namun saya bisa berkata bahwa itu adalah potensi besar. Dan keunikan dari sekian banyak potensi yang memang telah diberikan oleh tuhan kepada kita semua sebagai mahluk ciptaan.

Beberapa gambar dari sekumpulan anak-anak manusia ini, termasuk salah satunya membawa banyak simbol tentang uang, koruptor,  juga gambar karikatur masyarakat jelata yang mendongak keawan-awan dan ia menyaksikan gelembung-gelembung pendidikan gratis, pupuk gratis, kesehatan gratis. Yang unik mereka merangkai pensil-pensil warna mereka dalam rangkaian-rangkaian kawat. Saya tertarik gambar gambar megaphone, di ujung megaphone menjulur lidah. Haha, sayapun tertawa…dan bilang sambala, nagappana..

Selain berupa gambar,  juga adapula miniatur rumah kecil dari pohon kelapa reot. Malahan ia hendak memasukkan ayam didalalnya. Tapi, lah…itu sudah terlambat bro, kataku. Acara sudah dimulai.  Dan didepanya sosok gambar orang yang berdasi. Dan bertuliskan mengatakan ini adalah rumah kami. Hal itu kontradiksi yang mereka ingin dia ciptakan lewat wacara pencitraan para politisi kita.  Tak banyak yang bisa saya sebut namanya. Sebab saya banyak lupa nama mereka semua.

Saya jadi teringat dengan masa kecil saya. Teman membawa buku sekolahnya kepada saya dan meminta ia agar saya menggambar sebuah cerita film  yang dia tonton tadi malam dilayar TVRI. Yakni film “Janur Kuning”. Sosok Letkol Soeharto menjadi pemimpin dalam serangan sepuluh november melawan Belanda. Lalu saya menggambar Komaruddin yang berani  tampil kedepan diluar kesepakatan. Dan juga menggambar pesawat-pesawat Belanda  menjatuhkan bom kearah gerilyawan tentara nasional Indonesia disela-sela kawat duri yang mereka berusaha untuk dia tembus.

Nah, itulah pengalaman masa kecil saya waktu itu.


Subhan, Makkuaseng, 6 Pebruari 2013.

Selasa, 05 Februari 2013

Rumah Adalah Sebuah Konsep


Rumah Bugis bukan ruang yang tak bertuan .

Seorang Bugis secara prinsipil mempunyai konsep menjaga batas-batas ruang dalam rumah mereka. Apalagi jika ia bertemu dengan seseorang yang bukan dari kultur mereka. Namun dalam hal  ini ia sangat terbuka dengan segala hal jika anda datang bertamu ke rumahnya.

Dalam rumah mereka terdiri beberapa ruang yang kelihatannya begitu terbuka. Pertama mulai dari halaman rumah, teras rumah ruang tamu dan ruang dapur.  Dalam pergaulan mereka manakala seseorang datang kerumahnya pertama pada umunya ada yang menyapa anda dihalaman rumah, dan ada juga yang menyapa dan mengajak anda masuk kedalam rumah sebagai tamu. Tamu bagi mereka sangat dia hargai. Menyambut tamu begitu terlihat sangat sopan dan terbuka. Pertama ia mempersilahkan anda masuk, setelah itu dia seakan mempersilahkan anda duduk seadanya. Dan menyuguhkan makanan kecil dan minuman.



Wilayah dapur adalah hal sentitif

Namun jangan sangka ketika anda melihatnya begitu ramah dan terbuka mempersilahkan anda dalam ruang tertentu termasuk ruang tamu. Keramah tamahan mereka, bukan berarti   ia terbuka dengan segala hal. Sebab ada juga ruang ia dia tutupi. Salah satunya ruang dapur dan ruang keluarga mereka. Dapur secara simbolik adalah pusat hidup. Dan keluarga adalah pusat untuk menjaga harga diri mereka. Artinya ini hal subtansi dan prinsipil ruang dapur (ekonomi), dan keluarga (komunity).

Ia menyuguhkan sesutu buat anda, seperti menyuguhkan minuman teh dan makanan-makanan seadanya. Pada saat diruang tamu ia seakan memberitahukan anda tentang kondisi dirinya dan ragawinya. Namun ia akan tertutup untuk memberitahukan tentang keluarganya dan juga segala perabot dan isi dalam dapur mereka. Ruang tamu adalah tempat membicarakan tentang hal-hal tujuan, dan maksud kita sehari-hari selama itu tujuan sang tamu baik.

Makanya ada dendang lagu yang selalu kita kenal dari dulu. " Deceng enreki ribola, tejjali tettapere" Artinya kurang lebih maknanya seperti ini : Masuklah kebaikan kerumah kami. Tanpa tikar sebagai bentuk kebanggaan kami. Tamu yang datang di ibaratkan kebaikan. Bukan orangnya atau sang tamunya.

Dalam pergaulan ruang manakala anda masuk dalam rumahnya, dan jika sipemilik rumah membolehkan anda masuk keruang dapur. Atau mengajak anda masuk kedalam rumahnya bukan lewat ruang tamu bagian depan. Akan tetapi melainkan mengajak anda masuk lewat pintu belakang rumahnya, itu artinya ia mulai mengganggap anda begitu dekat dengan si empunya rumah. Dan mulai menganggap anda sudah mulai menjadi bahagian dirinya.

Ia sudah mulai merasa bahwa anda adalah seseorang yang bisa dipercaya. Dan bahkan menjadi bahagian dari kelurga anda. Etika ini berlaku bagi orang bugis. Jika anda sudah begitu dipercaya. Maka secara otomatis, bahwa orang tersebut juga dianggap bisa menanggung harga diri. Artinya sipemilik rumah akan menjaga harga diri ( siri') orang tersebut. Harapananya sipendatang juga menanggung harga diri si pemilik rumah.

Kekeluargaan dalam persepsi Bugis  adalah, adalah juga ruang lingkup (komunity) dan kebertetanggaan, atau ruang lingkup kelompok, meski bukan dalam turunan yang sama. Kita bisa rasakan secara langsung manakala ada orang bugis masih menjamu anda dalam ruang tamu. Maka, otomatis ia masih menganggap bahwa anda adalah tamu dengan batas ruang wajar sebagai orang lain daripada dirinya.  Akan tetapi manakala ia sebaliknya sudah membebaskan seseorang untuk masuk kedalam rumahnya lagi dan bahkan mengetahui aktifitas dapurnya. Siri' nya juga sudah menjadi siri' anda juga. Itu artinya ia akan menganggap bahwa anda adalah saudara yang patut juga dihargai harga dirinya. Atau seperti layaknya keluarga sendiri patut dijaga dalam hal kesulitan apapun.

Perilaku ini masih sebagian berlaku hingga saat ini terhadap masrakat Bugis. Saya pernah punya pengalaman dalam keluarga sewaktu kecil. Sebelum memasuki rumah seseorang pertama perlu mengetahui dimana batas ruang  tamunya. Dan dimana batas ruang dapurnya. Seenaknya masuk kedalam ruang dapur tanpa seizin yang punya rumah seperti pelanggaran etika. Akan tetapi untuk minta izin ini bukan berarti lewat bahasa verbal namun bentuknya kedekatan secara tingkah laku pskologis dan mental. Karena sipemilik rumah akan selalu mencermati anda. Apakah anda sudah menjadi bahagian daripada dirinya, atau bukan.


(Catatan ini ditulis berdasarkan pengalaman, dan juga sumber lain dari perbincagan kami dengan A. Apti Apriadi dari komunitas Mantra Bumi).

Penulis : Subhan Makkuaseng, Pebruari 2013. 

Rumah dan tetangga saya

Rumah saya terdiri pagar, halaman, teras, pintu masuk, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang dapur. Kemudian saya bersama keluarga hidup didalamnya, ayah, ibu adik, dan kakak. Rumah saya ini tak jauh beda dengan rumah-rumah yang lainya. Seperti tetangga saya memiliki ruangan-ruangan yang sama hampir sama dengan rumah saya.

Nyaman rasanya, tenang, tidur, makan dan istirahat . Pagi hari keluar rumah, dan pada sore hari saya mengajak tetangga mengobrol diteras rumah saya. Obrolan kami seputar kebertanggaan. Berlanjut sebuah konsep kebertetanggaan.

Awalnya tak ada saling mengganggu satu sama lain, karena masing-masing memiliki rumah tempat istirahat dan menenangkan diri. Hanya saja setiap masalah biasanya kami temukan diluar rumah saya, dimana kami bertemu dengan orang lain, yang bukan bahagian daripada diri kita bahagian dari keluarga yang selama ini kita kenal dengan segala kebiasaan kebiasaanya.

Namun akhir-akhirnya kami mengalami ketidaknyamanan dalam dalam hal kebertetanggan kami.
Ketidak harmonisan itu ketika kami membawa persoalan-persoalan tersebut di halaman rumah kami, dan diluar rumah kami. Disanalah biasanya kami cekcok dan berbeda. Percekcokan diluar rumah, jika tak selesai pada saat itu juga. Pada akhirnya kadangkala  banyak membawa masalah itu saja sampai kedalam rumah untuk dipikirkan. Pelibatan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan kadangkala buntu. Sebab pihak ketiga berada dalam posisi bukan selaku pelaku.

Masalah dari luar itu kadang menjadi konsumsi pribadi bersama keluarga saja.
Sumber masalah itu ketika saya bertemu dengan orang yang berbeda dengan saya diluar sana. Maka inilah asumsi saya, bahwa percekcokan selalu diawali diluar diri saya. Dan saya membayangkan rumah saya seperti satuan terkecil dari diri saya.

Minggu, 03 Februari 2013

Senin, 28 Januari 2013

Dari rupa “ Tau” menjadi “ Tau”


Rupa “ Tau” menjadi “ Tau”



“bugis selalu berproses untuk menjadi “tau” untuk meletakkan harga diri diatas kepala mereka. Bahkan ia selalu junjung tinggi”.


Pertanyaanya kemudian, apa itu “tau” dan apa tu “rupa tau” bagi  masyarakat Bugis?

Kita sering mendengar pepatah (paseng) Bugis, “sipa’katau”. Akan tetapi terjemahan kita tentang soal itu seakan-akan jadi slogam belaka. Sebab kenyataanya sipakatau, sangat sulit kita kongkritkan dalam kehidupan sehari-hari. Makna si pakatau kadang kita injak-injak sendiri.  Atau tak pernah kita pedulikan. Pada seandainya konsep sipakatau ini kita kejewantahkan konsep kemanusiaan secara universal, maka kita bisa menjadi begitu taat hukum. Dan juga taat, untuk tak mengambil hak-hak orang lain disekeliling kita.

Sebab bisa jadi juga seorang pejabat tak mengenal sipakatau dalam tindakan mereka. Juga seorang  seorang hakim tak melihat sipa' katau dalam mengambil sebuah keputusan. Seorang guru tak memiliki sipakatau terhadap anak didiknya. 

Tenyata akhir-akhir ini kalimat “ Sipa’ katau” hanya slogam untuk meraih kemenangan dalam situasi politik tertentu. Atau sipakatau hanya rayuan bagi orang-orang begitu dekat dengan kekuasaan. Sipa’ katau seakan hanya pantas disampaikan oleh seseorang yang bijak, namun ia kurang bijak dalam seseuatu hal.  Padahal konsep sipakatau adalah asas dasar bagi semua manusia tanpa mengenal kasta. Juga tanpa mengenal kelas siapa.

Konsep si pakatau kita bisa tarik dari kata dasar“ tau” adalah konsep jamak atas manusia sebagai manusia, selain “rupa tau”.

Menurut saya selaku penulis konsep “tau” (manusia)  bagi masyarakat Bugis juga menjadi puncak totalitas kejujujuran martabat seseorang, tanpa topeng.  

Bagi  orang Bugis adalah salah satu suku yang secara prinsipil mengawali dengan pengidentifikasian manusia pada level “ tau” dan “rupa tau”. Siapa itu (tau) manusia, dan siapa itu (rupa tau) wajah manusia. Tidak seperti apa yang dibayangkan Cristian Pelral dalam bukunya Manusia Bugis, sebgai manusia kejam dan pendendam. Karena pada zaman itu hasil penelitian Pelras menempatkan dirinnya sebagai pendatang dari yang mencoba menulis dari sudut pandanng kultur dirinya bukan sebagai subjek sekaligus objek  yang ditulisnya sendiri.
Konsep “Tau” dan “Rupa Tau”

Menurut bahasa kalimat ini terdiri dua suku kata “rupa” dan “tau”. “Rupa” berarti wajah dan  “Tau” adalah manusia. Dan kalau disambung maka ia bermakna wajah manusia. Dan kalau ia hanya menyebut tau berarti totalitas manusia sempurna. Makna “tau” adalah level tertinggi pada tingkat pencapaian manusia Bugis. Jika ia disebut rupa tau, berarti secara otomatis hanyalah berwajah manusia saja. Namun secara hakikat ia bukan manusia, melainkan bisa jadi adalah binatang dan lain-lain sebagainya. Dan saya yakin semua manusia sudah pasti tak akan ada yang mau diperlakukan sebagai bukan manusia.
Pada masyarakat bugis khususnya, jika ada tindakan manusia diluar nalar kemanusiaan lalu ia  berkata seperti ini “ Tau mua ga?”. Artinya apakah ia manusia? Atau bukan manusia. Sifat tindakan, dan perilaku seseorang hingga disebut manusia atau bukan manusia.  Jika seseorang mengenal kita sebagai “tau” maka ia akan menghargai kita sebagaimana adanya hingga hak-hak dasar kemanusiaan kita paling hakiki.

Ini sepertinya sangat prinsipil bagi masyarakat Bugis, dan  ini juga konsep dasar menjadi sumbu penegakan harga diri, “siri” yang sebagian masayarakat daerah ini segelintir masih dia pegang teguh.  Dan bagi masyarakat Bugis, pegindentifikasian bahwa tindakan pemulihan harga diri itu adalah tindakan bentuk wujud “Tau” atau bukan  “Tau”.
Dan saya mengutip salah satu puisi Zawawi Imron dalam buku Mata Badik Mata Puisi 2012. Kurang lebih begini, “ Ketika ujung mata mata badik mengancam mataku, ia mempertanyakan aku, apakah aku ini manusia atau bukan manusia”
Sebuah masalah untuk saya selesaikan diluar. Bersama dengan tetangga saya juga, terhadap orang asing diluar dari saya. Rumah seperti tempatku berpikir, dan diluar seperti tempatku menyelesaikanya dengan cara keluar.
Namun tak pernah terpikirkan kalau ternyata orang  yang saya temani cekcok diluar rumah saya juga memikirkan hal yang sama. Artinya saya berusaha untuk melakukan penyeragaman-penyeragaman sebagai mahluk yang berkawan socius. Atau menjadi “pada tau”.
Keinginan pribadi saya dan keinginan pribadi orang lain. Saya dari rumah saya dan orang lain ini dari rumahnya. Maka kenapa termasuk masyarakat bugis Makassar, hanya mengenal “ Tau” dan “Rupa Tau”


Makassar, 27 Januari 2013.