Rabu, 06 Februari 2013

Rupa-rupanya Rupa- UKM seni UMI


Rupa-rupanya Rupa- UKM seni UMI

"Mereka adalah sekumpulan anak muda belia mencoba menggaris lekak lekuk kehidupan. Juga mengiris bagian-bagian yang tercerai berai dari bagian-bagian potensi dasar bagi sekian banyak orang. Ia ingin menyebut dirinya seni rupa juga menyebut kelompoknya Galaksi Rupa. Adalah seni berkarya dengan gaya visual." 


(dok. Foto dari kumpulan foto pertunjukan HalamanRumah UPKSBS-UMI)

Tak ada perbincangan cukup lama. Baik apakah ia punya konsep yang baku sebelum ditampilkan. Akan tetapi jelasnya dari, A-Z adalah proses seperti sejalan dengan waktu ia  bergerak sebulan lamanya ia berproses mulai akhir Desember 2012 hingga Januari hingga 28 2013, kata Farid pasilitator mereka. Akhirnya berujung pada malam itu juga pameran karya di Gedung Al-Jibra UMI. Pameran berbentuk kerapian orang dan ketegangan sedang antrian untuk di tonton puluhan orang.   

Hidup dengan cara otodidak, bukan dengan jenjang semester persemester pada sebuah perkuliahan visual. Lalu saya bilang susun saja dengan rapi dengan bahasa saya sendiri selaku penulis. Sebab materialnya memang sudah sudah ada. Sisa disahkan,  yang lainya ikut membantu, serta dikawal oleh pasilitator lainya seperti  Riko juga salah satu anggota UKM Seni UMI juga.

Seandainya ia ibarat sebuah pameran produk industri, bisa jadi itu laku. Namun bisa pula produk itu gagal dan masuk kedalam tong sampah.  Dan kemudian pimpinan perusahaan mereka datang mencak-mencak karena  mengalami kerugian besar. Namun untungya ini hanyalah kreasi bagi kalangan anak-anak  muda yang merdeka. Bukan tumbuh dari mesin yang mengharuskan harus begitu dan begini oleh pihak perusahaan yang memesannya.


Saat ini bagi saya kebebasan beride adalah yang utama bagi mereka. Ia akan bertindak  selalu manajer dalam kelompoknya sendiri, sekaligus iapula menjadi kreatornya sendiri. Mengolah isu sentral juga menarik, karena ia terkait dengan wacana kepedulian. Namun  besar bagi saya yang pernah menjajal tempat itu berharap tak mengulangi pengalaman yang sama dietengah kecanggihan ilmu pengetahuan saat ini. Sisa menarik atau merangkum gagasan-gagasan yang ada diluar diri mereka.



Mereka keroyok proses pengerjaan tersebut, yang lain juga masih sempat tampil dalam aksi Happening Art. Banyak penonton menikmatinya. Sebab pameran ini juga menjadi pintu utama kemasan Pertunjukan Festa Halaman Rumah oleh UKM seni UMI dalam gedung in door Al-Jibra.

Saya teringat  Firman Djamil pernah berkata painting of  finish. Kecanggihan teknologi sudah merenggut semua. Dan mengemasnya lebih dari apa yang kita pikirkan sebelumnya sangat sulit. Tersisa bahwa apakah kita menjadi bagian daripada terknologi itu. Atau teknolgi adalah sarana buat manusia untuk mengolah gagasan-gagasanya. Tersisa adalah meta gagasan, menurut tafsiran saya tentang soal ini.

Sekedar wacana bahwa dunia cat men cat hanyalah rangkaian sejarah teknis, namun paling penting adalah bagaimana mengasah kemampuan meta teknis kita.

Kini saya melihat deretan coretan-coretan sketsa gambar dan seperti poster. Barangkali diangap remeh temeh bagi kalangan profesional. Namun saya bisa berkata bahwa itu adalah potensi besar. Dan keunikan dari sekian banyak potensi yang memang telah diberikan oleh tuhan kepada kita semua sebagai mahluk ciptaan.

Beberapa gambar dari sekumpulan anak-anak manusia ini, termasuk salah satunya membawa banyak simbol tentang uang, koruptor,  juga gambar karikatur masyarakat jelata yang mendongak keawan-awan dan ia menyaksikan gelembung-gelembung pendidikan gratis, pupuk gratis, kesehatan gratis. Yang unik mereka merangkai pensil-pensil warna mereka dalam rangkaian-rangkaian kawat. Saya tertarik gambar gambar megaphone, di ujung megaphone menjulur lidah. Haha, sayapun tertawa…dan bilang sambala, nagappana..

Selain berupa gambar,  juga adapula miniatur rumah kecil dari pohon kelapa reot. Malahan ia hendak memasukkan ayam didalalnya. Tapi, lah…itu sudah terlambat bro, kataku. Acara sudah dimulai.  Dan didepanya sosok gambar orang yang berdasi. Dan bertuliskan mengatakan ini adalah rumah kami. Hal itu kontradiksi yang mereka ingin dia ciptakan lewat wacara pencitraan para politisi kita.  Tak banyak yang bisa saya sebut namanya. Sebab saya banyak lupa nama mereka semua.

Saya jadi teringat dengan masa kecil saya. Teman membawa buku sekolahnya kepada saya dan meminta ia agar saya menggambar sebuah cerita film  yang dia tonton tadi malam dilayar TVRI. Yakni film “Janur Kuning”. Sosok Letkol Soeharto menjadi pemimpin dalam serangan sepuluh november melawan Belanda. Lalu saya menggambar Komaruddin yang berani  tampil kedepan diluar kesepakatan. Dan juga menggambar pesawat-pesawat Belanda  menjatuhkan bom kearah gerilyawan tentara nasional Indonesia disela-sela kawat duri yang mereka berusaha untuk dia tembus.

Nah, itulah pengalaman masa kecil saya waktu itu.


Subhan, Makkuaseng, 6 Pebruari 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar