Nyaman rasanya, tenang, tidur, makan dan
istirahat . Pagi hari keluar rumah, dan pada sore hari saya mengajak tetangga
mengobrol diteras rumah saya. Obrolan kami seputar kebertanggaan. Berlanjut
sebuah konsep kebertetanggaan.
Awalnya tak ada saling mengganggu satu sama lain,
karena masing-masing memiliki rumah tempat istirahat dan menenangkan diri.
Hanya saja setiap masalah biasanya kami temukan diluar rumah saya, dimana kami
bertemu dengan orang lain, yang bukan bahagian daripada diri kita bahagian dari
keluarga yang selama ini kita kenal dengan segala kebiasaan kebiasaanya.
Namun akhir-akhirnya kami mengalami
ketidaknyamanan dalam dalam hal kebertetanggan kami.
Ketidak harmonisan itu ketika kami membawa
persoalan-persoalan tersebut di halaman rumah kami, dan diluar rumah kami. Disanalah
biasanya kami cekcok dan berbeda. Percekcokan diluar rumah, jika tak selesai
pada saat itu juga. Pada akhirnya kadangkala
banyak membawa masalah itu saja sampai kedalam rumah untuk dipikirkan.
Pelibatan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan kadangkala buntu. Sebab
pihak ketiga berada dalam posisi bukan selaku pelaku.
Masalah dari luar itu kadang menjadi konsumsi
pribadi bersama keluarga saja.
Sumber masalah itu ketika saya bertemu dengan
orang yang berbeda dengan saya diluar sana. Maka inilah asumsi saya, bahwa
percekcokan selalu diawali diluar diri saya. Dan saya membayangkan rumah saya
seperti satuan terkecil dari diri saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar