Rabu, 27 Maret 2013

Bahasa Tak Jadi Soal, Tapi Saya Orang Bonerate Kan?


Bahasa Tak Jadi Soal, Tapi Saya Orang Bonerate Kan?

Lewat gerak gerik bibir dan senyumanyapun saya bisa mengerti,  akhirnya saya merasa diterima dengan ramah. Bahasa asli mereka adalah Selayar dan Buton. Karena konon memang  katanya mereka rata-rata adalah orang Buton. Bentuk fisik tak ada yang beda Indonesia tengah dan timur.

Selain warga Negara Indoenesia anda termasuk suku apa. Ia nampak bingung untuk menjawabnya. Suku apa yah?, katanya. Anda orang Bonerate, kataku singkat, sedikit bergurau. Lalu ia membalasnya, yah..sepertinya begitu, katanya.

Mereka orang asli pulau Bonerate, adalah kampung tanah kelahiran mereka. Bonerate berasal dari dua suku kata “Bone” dan “Rate”. Artinya pasir diatas. Sejarahnya penduduknya keturunan Buton. Bahkan kata salah seorang kepala dusun mereka bernama Asmoyan, bernenek moyangnya justru orang Madura.  Namun pulau ini secara administrative “berdistrik” wilayah Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi-selatan.

Penduduk pulau ini sebenarnya masyarakatnya kombinasi. Dari Buton, Nusa Tenggara Barat, Bugis dan Makassar. Mereka sudah lama mendiami pulau ini. Apalagi, saya termasuk saya saja adalah suku Madura, “ Kata Asmoyan kepala dusun mereka.

Dan tak ada penjelasan lain, kenapa nenek moyang mereka dulu ada disana dan melahirkan mereka. Saya tak melanjutkan pertanyaan sejarah suku. Karena sekedar basa basi untuk mengakrabkan diri dengan masyarakat sana.

Pulau ini berada bagian timur pulau Selayar. Jarak tempuh dari kota Selayar, 24 jam dengan perahu kayu penumpang ukuran 7x20 meter. Dan kalau dari kota Makassar kurang lebih 24 jam jalur darat dulu menuju Tanjung Bira, kemudian menyeberang kapal penyebrangan feri menuju Pulau selayar. Kemudian esok hari dermaga kecil, Benteng Selayar beberapa kapal kayu menuggu disana untuk mengangkut orang-orang akan ke pulau-pulau lainya dekat Selayar, termasukpula yaitu Bonerate tujuan saya. Menurut kabar, Selayar memang mengwilayahi kurang lebih 38 pulau kecil lainnya. Dan diperkirakan kira-kira sisa 7 pulau yang tak berpenghuni. Paling dikenal adalah Jampea dan Takabonerate.

“ Sebenarnya yang sulit disini adalah kapal penyeberangan. Dan transpotasi laut cepat” Kata kepala desa Bonerate, Dawami mengadu kepadaku.  

Dari nama pulau, sekaligus nama kampung Bonerate adalah desa Induk, pusat kecamatan Pasimarannu Kabupaten Selayar. Desa ini beberapa tahun lalu dipecah menjadi tiga desa salah satunya Majapahit dan Bonea. Bahkan beberapa desa lainya. Penduduk tercatat kurang lebih ribuan warga, bekerja di kebun menanam jagung dan kedelai. Selain itu ada juga bekerja membuat kapal, dan berdagang. Selain  kebiasaan melaut lainya hanya memancing ikan.

Jadi teringat, saat tiba dipulau ini kemarin sore.  Terlihat warga dan anak-anak kecil berlarian menyambut kapal yang bersandar disana. Aku memandangi kebawah laut bibir dermaga, bukan main begitu indah. Saya merasa begitu menikmati pemandangan beningnya air.  Terlihat jelas ikan-ikan warna warni seperti dalam aquarium fauna laut yang sering saya nonton di TV dipulau ini. Dan karangnya masih alami.

Kami merasa yakin akan baik-baik saja, apalagi tujuan kami juga baik. Sebelumnya kesana. Ada orang mengingatkan saya agar menghindari bahasa yang tak disenangi warga. Padahal dia sendiri belum pernah kesana. Termasuk menyebut ikan terbang dengan bahasa Makassar tak boleh. Karena pengertian orang sana tentang ikan terbang. Sangat tabu dan tak sopan. Sebab itu menunjukkan kepada kelamin perempuan. Tapi saya tak sempat menanyakan itu disana.

Kami berdua tiba sore hari. Saya menelpon kepala desa, yang kebetulan kepala desanya masih di kota Selayar. Lewat pembicaraan kami Ia menyuruh saya menginap rumah jabatan kecamatan. Kami disuruh menginap saja disana. Namun penghargaan atas nama penjaga rumah jabatan ini cukup bagus merespon kedatangan kami.

Dihalaman rumah jabatan ini, mataku tertuju pada sebuah koleksi meriam. Dan sebuah mesjid tua disana. Saya membayangkan kampung ini punya sejarah sendiri dimasa lalu.
Teman saya menginap di rumah kepala desa Majapahit tujuan mereka. Saya menginap di rumah Jabatan kecamatan saja.  

Mengawali tujuan kami, sore hari saya mengelilingi kampung ini. 

Dengan jalan kaki saja seperti terasa sudah mengelilingi pusat kecamatan ini. Tak begitu luas tapi rumah wargalah yang padat, namun penataan rumah kampung ini sangat teratur. Jalur jalanan kampung ini sangat tertib. Karena tak ada roda empat disana berkeliaran. Saya membayangkan seandainya mau dijadikan sebagai percontohan kampung pesisir disanalah tempatnya. Seperti sebuah kota indah tradisional yang terisolasi gara-gara laut. Hampir semua bisa bahasa Indonesia, selain menggunakan bahasa pulau mereka sendiri.

Awalnya cuma satu dusun lama-kelamaan dimekarkan menjadi dua sampai tiga dusun. Jumlah penduduk diperkirakan kurang lebih ribuan. Awalnya Cuma satu desa akhirnya harus dibelah lagi beberapa desa lagi.



Tanah Ini Lalu Kami Pinjam

Aku menuju pinggir pantai dan disana dekat pasar, disana ada  kedai kopi. Menu sara’ba juga ikan bakar. Semilir angin kian terasa bersama aroma laut yang asin menghilangkan lelah sejenak. Dan warna kulitnya coklat kehitaman tegap pemilik warung. Dan depan kedai hilir mudik gadis pulau ini lincah dengan sepeda motor sore hari mengelilingi kampung mutar-mutar jadi pemandangan menarik.
Desa Bonerate, dari 6 dusun. Yaitu Eroihu Barat, Eroihu Timur, Waikumba, Lamantu’u, Tunggua dan Miantu’u. Kurang lebih 700 kepala keluarga. Malam tiba, saya menginap salah satu penginapan kantor kecamatan.   

Terakhir, dengan kendaraan roda dua plat merah milik kepala desa, saya masuk salah satu dusun terpencil desa ini. Bernama dusun Miantu’u. Jalanan menuju kesana melewati area kebun warga, keluar dari pusat desa jaraknya kurang lebih 2 kilometer. Jalur setapak pada dataran sedikit tinggi pebukitan tertutup pasir putih sepanjang jalan. Pada ujung setapak ini, terlihat jalanan menurun dan terlihatlah dusun Miantu’u yang dikelilingi pohon kelapa tepat pesisir pantai.

Kepala dusunya bernama panggilan Salim (40 tahun). Ia sangat menyambut baik kedatangan saya. Karena  ia begitu mengenal motor yang aku kendarai, motor pak kepala desa. Iapun mengajak saya naik kerumahnya. Dari rumah panggung kecil berdinding belahan bambu dan kayu. Berselang beberapa menit kemudian  istrinya keluar menyuguhkan kopi hangat dan biskuit gabin.

Pak Salim bercerita tentang riwayat dusun yang satu ini. Menurut kabar, tanah dusun ini  bukan berstatus milik asli warga. Akan tetapi tanah pinjaman salah seorang pengusaha di Bonerate. Makanya banyak rata-rata warga kurang serius membangun rumah mereka seperti layaknya rumah hunian yang sehat. Sang pemilik tanah tak mau menjual kepada warga. Ia hanya menjadikan status tanah pinjaman. Dan kapan-kapan saja bisa diambil kembali. Aku merasa miris mendengarnya. Sebab mana mungkin sebuah dusun yang sudah dihuni warga 50 kepala keluarga beberapa tahun lamanya. Statusya masih bukan hak milik penuh. Informasi ini hanya menggugah perasaan saya. Tak bisa saya bayangkan, bagaimana jika kelak pemilik tanah berubah pikiran, dan akan mengambil tanah ini. Pastinya kemana 50 orang kepala keluarga ini beserta anak-anaknya. 

Apakah alam semesta ini menyediakannya. Dan daerah perkampungan kemunkinan besar masih banyak alternative. Tak sama dengan kota besar. Tapi jelasnya warga dusun ini tetap memikirkan soal itu.

Pak Salim, makin serius berpikir akan kemajuan pendidikan anak sekitar dusun ini. Ia mengangumi salah seorang guru perempuan pernah datang disana yang ia kagumi rela berjuang untuk mengajar membaca anak-anak dibawah rumah dan mesjid kecil sepuluh tahun lamanya. Namun berkat kemauan guru ini, hingga tahun 2004 pemerintah mendirikan gedung sekolah dasar hingga sekarang anak-anak dusun ini bisa belajar disana.


Masa Muda Melaut Masa Tua Bawa Cerita 

Esok hari, Kamis saya melanjutkan perjalanan kedaerah berikutnya. Yaitu Desa Bonea, tetap wilayah kabupaten Selayar Sulawesi-selatan. disana saya disambut kepala dusun Onetimur dan Onemelangka. Keduanya adalah mantan navigasi laut dengan perahu kayu dan layar. 

Berdasarkan pengalaman muda mereka. Ia pernah menjelajahi hampir seluruh kepulauan Indonesia hanya berbekal perahu layar. Pertama mengenal pulau Batam lewat kepulauan Riau Sumatera sampai Singapura. Dan arah utara kepulauan Pilipina. Tahun 1970 an. Bahkan arah timur sempat terdampar dipulau Maluku utara sampai Papua. Dan pernah ditahan Polisi Australia karena memasuki perairanya tanpa sengaja. Sebab untuk area timur dari arah Selayar akan bertemu dengan kepulauan Plores dan Timor-Timor (sekarang Negara Timor Leste), dan dekat dengan perbatasan Australia. 

Tetua kampung ini memang dulunya adalah perantau dengan menggunakan kapal layar angin.
Karena itulah resiko sebuah pulau yang menghubungkan antara laut dan darat. Tak ada alternative lain kecuali mengarungi lautnya. Selang satu atau dua hari kapal baru kapal datang lagi bersandar dekat pulau atau dermaga.

Pekerjaan penelitian, survey quesioner begitu modern diikat oleh target ketepatan waktu kalau bisa selesai 3 hari. Makanya kenapa saya gelisah.
Namun dia terlihat biasa-biasa saja. Kalau bukan hari ini yah, besok. Karena kita tak punya cara menjelajahi laut kecuali dengan prinsip kesabaran. Mempelajari kondisi cuaca yang tepat untuk berlayar. Sambil menunggu kapal penumpang tiba dukampung mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar