Bahasa Tak Jadi Soal, Tapi Saya Orang Bonerate Kan?
Lewat gerak gerik bibir dan
senyumanyapun saya bisa mengerti, akhirnya saya merasa diterima dengan ramah.
Bahasa asli mereka adalah Selayar dan Buton. Karena konon memang katanya mereka rata-rata adalah orang Buton. Bentuk
fisik tak ada yang beda Indonesia tengah dan timur.
Selain warga Negara Indoenesia
anda termasuk suku apa. Ia nampak bingung untuk menjawabnya. Suku apa yah?,
katanya. Anda orang Bonerate, kataku singkat, sedikit bergurau. Lalu ia
membalasnya, yah..sepertinya begitu, katanya.
Mereka orang asli pulau Bonerate,
adalah kampung tanah kelahiran mereka. Bonerate berasal dari dua suku kata “Bone”
dan “Rate”. Artinya pasir diatas. Sejarahnya penduduknya keturunan Buton.
Bahkan kata salah seorang kepala dusun mereka bernama Asmoyan, bernenek moyangnya
justru orang Madura. Namun pulau ini secara
administrative “berdistrik” wilayah Kabupaten Selayar Provinsi
Sulawesi-selatan.
Penduduk pulau ini sebenarnya
masyarakatnya kombinasi. Dari Buton, Nusa Tenggara Barat, Bugis dan Makassar.
Mereka sudah lama mendiami pulau ini. Apalagi, saya termasuk saya saja adalah
suku Madura, “ Kata Asmoyan kepala dusun mereka.
Dan tak ada penjelasan lain,
kenapa nenek moyang mereka dulu ada disana dan melahirkan mereka. Saya tak
melanjutkan pertanyaan sejarah suku. Karena sekedar basa basi untuk
mengakrabkan diri dengan masyarakat sana.
Pulau ini berada bagian timur
pulau Selayar. Jarak tempuh dari kota Selayar, 24 jam dengan perahu kayu
penumpang ukuran 7x20 meter. Dan kalau dari kota Makassar kurang lebih 24 jam
jalur darat dulu menuju Tanjung Bira, kemudian menyeberang kapal penyebrangan feri
menuju Pulau selayar. Kemudian esok hari dermaga kecil, Benteng Selayar
beberapa kapal kayu menuggu disana untuk mengangkut orang-orang akan ke pulau-pulau
lainya dekat Selayar, termasukpula yaitu Bonerate tujuan saya. Menurut kabar,
Selayar memang mengwilayahi kurang lebih 38 pulau kecil lainnya. Dan
diperkirakan kira-kira sisa 7 pulau yang tak berpenghuni. Paling dikenal adalah
Jampea dan Takabonerate.
“ Sebenarnya yang sulit disini
adalah kapal penyeberangan. Dan transpotasi laut cepat” Kata kepala desa
Bonerate, Dawami mengadu kepadaku.
Dari nama pulau, sekaligus nama
kampung Bonerate adalah desa Induk, pusat kecamatan Pasimarannu Kabupaten
Selayar. Desa ini beberapa tahun lalu dipecah menjadi tiga desa salah satunya
Majapahit dan Bonea. Bahkan beberapa desa lainya. Penduduk tercatat kurang
lebih ribuan warga, bekerja di kebun menanam jagung dan kedelai. Selain itu ada
juga bekerja membuat kapal, dan berdagang. Selain kebiasaan melaut lainya hanya memancing ikan.
Jadi teringat, saat tiba dipulau
ini kemarin sore. Terlihat warga dan
anak-anak kecil berlarian menyambut kapal yang bersandar disana. Aku memandangi
kebawah laut bibir dermaga, bukan main begitu indah. Saya merasa begitu
menikmati pemandangan beningnya air.
Terlihat jelas ikan-ikan warna warni seperti dalam aquarium fauna laut
yang sering saya nonton di TV dipulau ini. Dan karangnya masih alami.
Kami merasa yakin akan baik-baik
saja, apalagi tujuan kami juga baik. Sebelumnya kesana. Ada orang mengingatkan
saya agar menghindari bahasa yang tak disenangi warga. Padahal dia sendiri
belum pernah kesana. Termasuk menyebut ikan terbang dengan bahasa Makassar tak
boleh. Karena pengertian orang sana tentang ikan terbang. Sangat tabu dan tak
sopan. Sebab itu menunjukkan kepada kelamin perempuan. Tapi saya tak sempat
menanyakan itu disana.
Kami berdua tiba sore hari. Saya
menelpon kepala desa, yang kebetulan kepala desanya masih di kota Selayar.
Lewat pembicaraan kami Ia menyuruh saya menginap rumah jabatan kecamatan. Kami
disuruh menginap saja disana. Namun penghargaan atas nama penjaga rumah jabatan
ini cukup bagus merespon kedatangan kami.
Dihalaman rumah jabatan ini, mataku
tertuju pada sebuah koleksi meriam. Dan sebuah mesjid tua disana. Saya
membayangkan kampung ini punya sejarah sendiri dimasa lalu.
Teman saya menginap di rumah
kepala desa Majapahit tujuan mereka. Saya menginap di rumah Jabatan kecamatan
saja.
Mengawali tujuan kami, sore hari
saya mengelilingi kampung ini.
Dengan jalan kaki saja seperti
terasa sudah mengelilingi pusat kecamatan ini. Tak begitu luas tapi rumah wargalah
yang padat, namun penataan rumah kampung ini sangat teratur. Jalur jalanan
kampung ini sangat tertib. Karena tak ada roda empat disana berkeliaran. Saya
membayangkan seandainya mau dijadikan sebagai percontohan kampung pesisir
disanalah tempatnya. Seperti sebuah kota indah tradisional yang terisolasi
gara-gara laut. Hampir semua bisa bahasa Indonesia, selain menggunakan bahasa
pulau mereka sendiri.
Awalnya cuma satu dusun
lama-kelamaan dimekarkan menjadi dua sampai tiga dusun. Jumlah penduduk
diperkirakan kurang lebih ribuan. Awalnya Cuma satu desa akhirnya harus dibelah
lagi beberapa desa lagi.
Tanah Ini Lalu Kami Pinjam
Aku menuju pinggir pantai dan
disana dekat pasar, disana ada kedai
kopi. Menu sara’ba juga ikan bakar. Semilir angin kian terasa bersama aroma
laut yang asin menghilangkan lelah sejenak. Dan warna kulitnya coklat kehitaman
tegap pemilik warung. Dan depan kedai hilir mudik gadis pulau ini lincah dengan
sepeda motor sore hari mengelilingi kampung mutar-mutar jadi pemandangan
menarik.
Desa Bonerate, dari 6 dusun.
Yaitu Eroihu Barat, Eroihu Timur, Waikumba, Lamantu’u, Tunggua dan Miantu’u.
Kurang lebih 700 kepala keluarga. Malam tiba, saya menginap salah satu
penginapan kantor kecamatan.
Terakhir, dengan kendaraan roda
dua plat merah milik kepala desa, saya masuk salah satu dusun terpencil desa
ini. Bernama dusun Miantu’u. Jalanan menuju kesana melewati area kebun warga, keluar
dari pusat desa jaraknya kurang lebih 2 kilometer. Jalur setapak pada dataran
sedikit tinggi pebukitan tertutup pasir putih sepanjang jalan. Pada ujung
setapak ini, terlihat jalanan menurun dan terlihatlah dusun Miantu’u yang
dikelilingi pohon kelapa tepat pesisir pantai.
Kepala dusunya bernama panggilan
Salim (40 tahun). Ia sangat menyambut baik kedatangan saya. Karena ia begitu mengenal motor yang aku kendarai,
motor pak kepala desa. Iapun mengajak saya naik kerumahnya. Dari rumah panggung
kecil berdinding belahan bambu dan kayu. Berselang beberapa menit kemudian istrinya keluar menyuguhkan kopi hangat dan
biskuit gabin.
Pak Salim bercerita tentang
riwayat dusun yang satu ini. Menurut kabar, tanah dusun ini bukan berstatus milik asli warga. Akan tetapi
tanah pinjaman salah seorang pengusaha di Bonerate. Makanya banyak rata-rata
warga kurang serius membangun rumah mereka seperti layaknya rumah hunian yang
sehat. Sang pemilik tanah tak mau menjual kepada warga. Ia hanya menjadikan
status tanah pinjaman. Dan kapan-kapan saja bisa diambil kembali. Aku merasa
miris mendengarnya. Sebab mana mungkin sebuah dusun yang sudah dihuni warga 50
kepala keluarga beberapa tahun lamanya. Statusya masih bukan hak milik penuh.
Informasi ini hanya menggugah perasaan saya. Tak bisa saya bayangkan, bagaimana
jika kelak pemilik tanah berubah pikiran, dan akan mengambil tanah ini.
Pastinya kemana 50 orang kepala keluarga ini beserta anak-anaknya.
Apakah alam
semesta ini menyediakannya. Dan daerah perkampungan kemunkinan besar masih
banyak alternative. Tak sama dengan kota besar. Tapi jelasnya warga dusun ini
tetap memikirkan soal itu.
Pak Salim, makin serius berpikir
akan kemajuan pendidikan anak sekitar dusun ini. Ia mengangumi salah seorang
guru perempuan pernah datang disana yang ia kagumi rela berjuang untuk mengajar
membaca anak-anak dibawah rumah dan mesjid kecil sepuluh tahun lamanya. Namun
berkat kemauan guru ini, hingga tahun 2004 pemerintah mendirikan gedung sekolah
dasar hingga sekarang anak-anak dusun ini bisa belajar disana.
Masa Muda Melaut Masa Tua Bawa Cerita
Esok hari, Kamis saya melanjutkan
perjalanan kedaerah berikutnya. Yaitu Desa Bonea, tetap wilayah kabupaten
Selayar Sulawesi-selatan. disana saya disambut kepala dusun Onetimur dan
Onemelangka. Keduanya adalah mantan navigasi laut dengan perahu kayu dan layar.
Berdasarkan pengalaman muda mereka. Ia pernah menjelajahi hampir seluruh
kepulauan Indonesia hanya berbekal perahu layar. Pertama mengenal pulau Batam
lewat kepulauan Riau Sumatera sampai Singapura. Dan arah utara kepulauan
Pilipina. Tahun 1970 an. Bahkan arah timur sempat terdampar dipulau Maluku
utara sampai Papua. Dan pernah ditahan Polisi Australia karena memasuki
perairanya tanpa sengaja. Sebab untuk area timur dari arah Selayar akan bertemu
dengan kepulauan Plores dan Timor-Timor (sekarang Negara Timor Leste), dan
dekat dengan perbatasan Australia.
Tetua kampung ini memang dulunya adalah
perantau dengan menggunakan kapal layar angin.
Karena itulah resiko sebuah pulau
yang menghubungkan antara laut dan darat. Tak ada alternative lain kecuali
mengarungi lautnya. Selang satu atau dua hari kapal baru kapal datang lagi
bersandar dekat pulau atau dermaga.
Pekerjaan penelitian, survey
quesioner begitu modern diikat oleh target ketepatan waktu kalau bisa selesai 3
hari. Makanya kenapa saya gelisah.
Namun dia terlihat biasa-biasa
saja. Kalau bukan hari ini yah, besok. Karena kita tak punya cara menjelajahi
laut kecuali dengan prinsip kesabaran. Mempelajari kondisi cuaca yang tepat
untuk berlayar. Sambil menunggu kapal penumpang tiba dukampung mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar